Anggota Dewan Korupsi Periode 2014-2019

Indonesia masih termasuk negara yang memiliki koruptor terbanyak. Tentu ini hsl yang memalukan mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Organisasi Indonesian Corruption Watch atsu ICW mencatat pada periode 2014-2019 terdapat 254 anggota dewan korupsi baik DPR RI ataupun DPRD. Sebanyak 22 prang adalah anggota DPR pusat dan sisanya anggota DPRD. Dari 22 orang anggota dewan pusat yang tersangka topikor ini, 8 diantaranya berasal dari Partai Golkar sekaligus yang paling banyak. Selanjutnya PAN dan Demokrat menempati posisi kedua yaitu masing-masing 3 orang. Kemudian PDIP dan Hanura masing-masing 2 orang. Sebagai pengetahuan inilah deretan amgota dewan pusat yang korupsi pada periode 2014-2019.

1. Setya Novanto

Namanya sempat menjadi bahan perbincangan media nasional semua itu karena Setnov yang kala itu masih menjabat sebagai ketua DPR pusat selama 2 tahun ditetapkan tersangka korupsi oleh KPK. Sebagai pimpinan tertinggi wakil rakyat, Setya telah memberi cap tidak dipercaya mengemban amanah. Pimpinan ini terseret kasus penggelapan dana proyek e-KTP yang membuat negara rugi hingga triliunan rupiah. Kejadian tahun 2010 di hotel Grand Melia saat Setya bertemu dengan Andi Naragog menjadi cikal bakal adanya persekongkolan tersebut.

2. Taufik Kurniawan

Dua tahun berselang setelah penangkapan Setnov, wakil ketua DPR pusat Taufik Kurniawan juga ditetapkan tersangka oleh KPK yaitu 30 Oktober 2017. Ia terlibat kasus pengurusan Dana Alokasi Khusus atau DAK Kabupaten Kebumen yang berasal dari APBN 2016. Taufik diduga memperoleh janji atau hadiah atas perolehan DAK Kebumen tersebut. Wakil DPR ini adalah salah satu dari tiga anggota partai PAN yang terseret tindak korupsi. Namanya semamin tercoreng karena tidak mau turun dari jabatannya sebagai wakil DPR.

3. Muchammad Romahurmuziy

Romi yang sekaligus menjabat sebagai ketua umum PPP, juga ditetapkan tersangka oleh KPK pada operasi tangkap tangan di Sidoarjo tahun 2019 silam. Keterlibatannya dalam jual beli jabatan di Kemenag membuatnya terancam dipidana 20 tahun penjara. Uang yang diterimanya diduga berhubungan dengan jabatannya sebagai amggota DPR dan ketum PPP untuk mengintervensi jabatan di Kemenag Jawa Timur.

4. Dewie Yasin Limpo

Mantan anggota DPR komisi VII tersebut terseret kasus suap proyek pembangkit listrik mikrohidro di Deiyai, Papua. Anggota dewan korupsi wanita ini divonis lebih ringan dari ancamannya yaitu 6 tahun penjara beserta denda sebesar Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan oleh hakim. Dalam proses sidangnya sampai selesai, Dewie bersikukuh bahwa ia tak tahu menahu uang suap tersebut dan mengatakan uang ditujukan untuk proyek di Kementrian ESDM.

5. Nyoman Dharmantara

Nyoman yang diusung oleh PDIP ini tersangka kasus penyuapan impor bawang putih. Atas kasusnya ini, anggota dewan korupsi ini langsung dipecat dari pantai yang mengusungnya tersebut. Amggota DPR yang berasal dari Bali tersebut tertangkap OTT dan darinya disita uang senilai Rp 2M dan pecahan dollar AS.

KPK menangkapnya pada tanggal 8 Agustus 2019 silam sekaligus penutup dari anggota dewan yang ditetapkan tersangka oleh KPK. Nyoman menjadi yang terakhir ditangkap pada periode 2014-2019 tersebut dan semoga benar-benar menjadi yang terakhir pemerintahan Republik Indonesia.

Tindakan tersebut tentu merugikan negara baik finasial maupun citranya. Sepanjang tahun 2003-2018, KPK telah menangkap 539 pelaku tipikor yang 60% kebanyakan diantaranya adalah anggota politik. Anggota dewan korupsi tersebut adalah pilihan rakyat sendiri. Berdasarkan pengalaman ini rakyat sudah harus lebih jeli dalam memilih wakil rakyat.

Inisiatif untuk mencari informasi atau profil dari calon dewan adalah salah satu tindakan untuk meminimalisir adanya tikus berdasi seperti yang dialami Indonesia saat ini. Generasi milenial tentu tidak sulit melakukan hal tersebut. Pengetahuan atau informasi rekam jejak calon dapat dibagikan kepada orang awam terdekat yang tidak dapat memperoleh informasi tersebut.